
Dasar · Pelajaran 3 dari 13 · ±4 menit baca
Uji Tarik & Kurva Tegangan–Regangan
Membaca kekuatan luluh, kekuatan tarik, perpanjangan, dan modulus dari satu kurva.
Isi modul · 13 pelajaran
- 1Klasifikasi Logam
- 2Sifat Mekanik Logam
- 3Uji Tarik & Kurva Tegangan–Regangan
- 4Uji Kekerasan Brinell, Vickers & Rockwell
- 5Machinability, Panas & Pembentukan Geram
- 6Material Pahat: HSS, Karbida, Keramik, CBN & PCD
- 7Diagram Besi–Karbon & Struktur Mikro Baja
- 8Dasar Perlakuan Panas (Heat Treatment)
- 9Pengerasan Permukaan & Kedalaman Efektif
- 10Plastik Teknik & Material Non-Logam di Bengkel
- 11Memilih Material Sesuai Kebutuhan Komponen
- 12Membaca Kode Material
- 13Korosi & Cara Melindunginya
Uji tarik adalah cara paling umum untuk mengetahui seberapa kuat dan seberapa ulet sebuah logam. Batang uji berukuran standar dijepit di kedua ujung lalu ditarik perlahan sampai putus, sementara mesin mencatat gaya dan pertambahan panjang. Angka-angka di sertifikat material (kekuatan luluh, kekuatan tarik, dan perpanjangan) berasal dari uji ini, misalnya menurut ISO 6892-1.
Dari gaya menjadi tegangan
Gaya saja belum bisa dibandingkan antarbenda karena batang yang lebih besar tentu menahan gaya lebih besar. Karena itu gaya dibagi luas penampang awal sehingga menjadi tegangan teknik, dan pertambahan panjang dibagi panjang ukur awal sehingga menjadi regangan.
| Besaran | Rumus | Satuan |
|---|---|---|
| Tegangan teknik σ | F ÷ S₀ (gaya ÷ luas penampang awal) | N/mm² = MPa |
| Regangan ε | ΔL ÷ L₀ (pertambahan panjang ÷ panjang ukur awal) | tanpa satuan, sering ditulis % |
| Luas penampang bulat S₀ | π × d₀² ÷ 4 | mm² |
Kurva tegangan–regangan baja karbon sedang (contoh hitungan di pelajaran)
Digambar sesuai skala: E = 210 GPa membuat daerah elastis hampir tegak (hanya ±0,17% regangan), jadi kotak kecil memperbesar awal kurva. Garis putus setelah patah menunjukkan pengembalian elastis—perpanjangan A diukur dari batang yang sudah patah, tanpa bagian elastis.
Batang uji tarik Ø10 mm pada tiga tahap
123- 1Sebelum diuji — Ø10 mm, garis oranye = panjang ukur L₀ 50 mm di antara dua garis gores.
- 2Saat gaya maksimum (Rm) — batang memanjang merata ≈ 11,6% (55,8 mm), diameter ≈ 9,5 mm di seluruh bagian sejajar.
- 3Setelah patah — kedua potongan disatukan: Lu = 58 mm → A = 16%. Leher Ø7,5 mm → Z ≈ 44%. Patahan berbentuk cup-and-cone khas logam ulet.
Dirender dari profil radius batang uji proporsional (L₀ = 5·d₀) dengan angka yang sama seperti contoh hitungan; bentuk kepala batang dan cara penjepitan berbeda menurut standar dan mesin uji.
Membaca kurva tahap demi tahap
- Daerah elastis — garis lurus dari nol. Bila beban dilepas, batang kembali ke panjang semula. Kemiringannya adalah modulus elastisitas E (σ = E × ε).
- Titik luluh — deformasi plastis (permanen) mulai terjadi. Baja karbon lunak sering menunjukkan titik luluh atas ReH yang jelas; material tanpa titik luluh jelas memakai Rp0,2, yaitu tegangan saat regangan permanen 0,2%.
- Pengerasan regangan — setelah luluh, tegangan masih naik karena logam makin keras saat dideformasi.
- Kekuatan tarik Rm — tegangan teknik tertinggi, yaitu gaya maksimum dibagi S₀. Sampai titik ini batang memanjang merata.
- Necking — setelah Rm, deformasi terpusat di satu tempat sehingga penampang mengecil. Gaya yang dibutuhkan turun walaupun tegangan sebenarnya di leher terus naik.
- Patah — panjang setelah patah dan diameter terkecil di leher diukur untuk menghitung perpanjangan dan reduksi penampang.
| Simbol | Nama | Cara mendapatkan |
|---|---|---|
| ReH / Rp0,2 | Kekuatan luluh | Gaya saat luluh ÷ S₀, atau metode offset 0,2% |
| Rm | Kekuatan tarik | Gaya maksimum ÷ S₀ |
| A | Perpanjangan setelah patah | (Lu − L₀) ÷ L₀ × 100% |
| Z | Reduksi penampang | (S₀ − Su) ÷ S₀ × 100% |
| E | Modulus elastisitas | Kemiringan daerah elastis |
Contoh hitungan
Batang uji baja berdiameter d₀ = 10 mm dengan panjang ukur L₀ = 50 mm. Luas penampangnya S₀ = π × 10² ÷ 4 = 78,54 mm². Gaya saat luluh 27,5 kN, jadi ReH = 27 500 ÷ 78,54 ≈ 350 MPa. Gaya maksimum 47,1 kN, jadi Rm = 47 100 ÷ 78,54 ≈ 600 MPa. Setelah patah, kedua potongan disatukan dan panjang ukurnya menjadi Lu = 58 mm, sehingga A = (58 − 50) ÷ 50 × 100% = 16%. Diameter terkecil di leher 7,5 mm (Su = 44,18 mm²), sehingga Z = (78,54 − 44,18) ÷ 78,54 × 100% ≈ 44%. Angka seperti ini wajar untuk baja karbon sedang yang dinormalkan, tetapi tetap harus dicocokkan dengan standar grade-nya.
Artinya untuk desain dan bengkel
- Komponen dirancang agar tegangan kerjanya di bawah kekuatan luluh dengan faktor keamanan. Bila luluh terlampaui, komponen bengkok permanen walaupun belum putus.
- Perpanjangan dan reduksi penampang yang besar berarti material ulet: ia memberi peringatan berupa bengkok sebelum patah. Material getas bisa patah tanpa tanda.
- Modulus E hampir sama untuk semua baja (sekitar 200–210 GPa), baik baja lunak maupun baja paduan yang dikeraskan. Poros ramping yang terlalu melendut tidak menjadi lebih kaku dengan mengganti grade; yang menolong adalah memperbesar diameter, memperpendek bentangan, atau menambah tumpuan.
- Aluminium memiliki E sekitar 70 GPa, kira-kira sepertiga baja. Dengan bentuk dan beban yang sama, lendutannya sekitar tiga kali lebih besar — penting saat mencekam benda tipis atau membuat fixture ringan.
Perhatian: Nilai di sertifikat berlaku untuk batang uji menurut standar, arah pengambilan, dan ukuran produk tertentu. Jangan memakai angka katalog atau hasil konversi kekerasan seolah-olah nilai minimum yang dijamin. Untuk komponen kritis, rujuk nilai minimum di standar dan sertifikat lot material yang dipakai.
Tips: Saat menerima material bersertifikat, cocokkan minimal tiga angka uji tarik—kekuatan luluh, kekuatan tarik, dan perpanjangan—dengan batas minimum di standar yang tertulis pada gambar, serta pastikan nomor heat/lot sama dengan label batang.
